Gayeng, Kolaborasi Gamelan Prancis–Unnes

Senin, 13 Agustus 2012 | 04:35

Ada yang tidak biasa menjelang buka puasa, Jumat (10/8), di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dosen dan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Sekar Domas (Seni Karawitan Dosen dan Mahasiswa) Unnes, menabuh bersama dua orang bule.

Mereka adalah Christophe Moure dan Corentin. Bersama kelompok kesenian Unnes yang dipimpin oleh Widodo Brotosejati, dosen Karawitan Jurusan Seni Drama Tari dan Musik FBS Unnes, dua bule itu memainkan gending-gending Jawa hingga menjelang buka puasa. Gending seperti Pangkur, Sinom Parijatha, dan aneka langgam Jawa dibawakan tim kolaborasi ini dengan begitu kompak. Layaknya sudah lama berlatih bersama.

Tidaklah heran, Christophe dan Corentin adalah pengajar di Cité de la musique Paris. Keduanya jago memainkan instrumen gamelan karena telah lama menimba ilmu kepada Sri Joko Raharjo, seorang praktisi karawitan Jawa yang tinggal di Kartasura.

Kesempatan menabuh bersama ini merupakan salah satu agenda kunjungan balasan Cité de la musique di Unnes. Pertengahan Juli lalu, rombongan tim kesenian Unnes telah terlebih dahulu menyambangi mereka di Paris, Prancis.

Christophe yang memiliki darah keturunan Semarang dari ibunya itu menyatakan sangat antusias dengan menabuh gamelan bersama ini.  “Sangat luar biasa bisa berkolaborasi dengan tim yang kompak ini,” ujarnya yang memegang instrumen gender. Adapun Corentin menabuh gambang. Mereka berharap bisa menabuh lagi dengan tim kesenian Unnes.

Kekhidmatan itu dicukupkan menjelang beduk magrib ditabuh. Saat azan berkumandang, pengrawit –sebutan untuk penabuh gamelan– menikmati buka puasa dengan cara lesehan; ada pula gorengan dan teh panas. “Sesuatu yang tidak didapat dari latihan gamelan ketika di Prancis,” tutur Christopher.

Kerja sama

Siang hari sebelum itu, mereka berdua diterima Pembantu Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama Unnes Prof Fathur Rokhman di gedung H kampus Sekaran. Membahas kelanjutan kerja sama Unnes dan Cité de la musique. Salah satu yang ditawarkan oleh sekolah musik itu adalah program jangka panjang untuk melatih gamelan atau tari di Prancis. “Makanismenya adalah mereka yang memiliki keahlian kesenian serta berminat ke Prancis,” ujar Christopher. Cité akan melihat portofolio pelamar dan yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, bila memenuhi syarat segera dipanggil ke Paris.

Christopher juga mengatakan, sebaiknya peserta adalah mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Prancis juga, jadi nantinya selain memiliki pengalaman kolaborasi seni tingkat dunia, juga memiliki ijazah dari universitas di Prancis.

Sementara itu, Prof Fathur menawarkan program beasiswa Darmasiswa untuk mahasiswa Cité de la Musique selama 1 tahun. “Mahasiswa asing yang belajar di Unnes akan mempelajari bahasa, seni, dan budaya Indonesia,” jelas Prof Fathur.

Berita Lain

Tautan Luar

Tautan Dalam

  • Kontak Kami

    Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa
    Gedung B1 Fakultas Bahasa dan Seni
    024 86458383
    UNNES